Posted by: iBNuX | January 25, 2009

Kekerasan dalam islam

Banyak ayat2 Qur’an yang memerlukan penjelasan yang jelas.
“Bunuh kafir di mana pun kau menemukanya.” (2:191)
“Perangi mereka, sampai tidak ada fitnah lagi dan ketaatan adalah semata-mata bagi Allâh saja.” (2:193)

Bagaimana para Muslim menerangkan ayat2 ini? Bukankah ayat2 ini, dan ayat2 serupa lainnya dalam Qur’an, yang bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan di dalam dunia Islam? Kebanyakan agama, termasuk Kristen, punya sejarah masa lalu yang penuh kekerasan. Tapi Islam adalah satu2nya agama yang mengajarkan tindakan kekerasan dalam buku sucinya. Mengapa? Ini adalah pertanyaan sah yang membutuhkan jawaban.

——————–

Kalimat-kalimat di atas adalah sebuah pertanyaan yang terselip dalam bab 7 buku kacangan yang menghina Nabi Muhammad SAW, karangan Ali Sina yang mengaku pernah beragama Islam.
Jim Ball seorang penyiar radio di Sidney menulis: “Ali Sina adalah murtadin Iran yang memelopori website faithfreedom.org. Bersama-sama dengan murtadin2 lainnya seperti Ibn Warraq, Sina adalah ujung tombak gerakan murtadin pertama dalam sejarah Islam. Hal ini dimungkinkan terjadi dalam sepuluh sampai lima belas tahun terakhir karena imigrasi Muslim ke tanah Barat dan perkembangan teknologi internet…. Tidak berlebihan untuk mengatakan jika orang2 seperti Ali Sina, Ibn Warraq dan Wafa Sultan selamat dari ancaman mati bagi yang meninggalkan Islam, maka Islam tidak akan tampak sama lagi.”

——————-

Sebagai orang awam saat saya membaca atau mendengar ada ayat Al-Quran bermakna “Bunuh kafir di mana pun kau menemukanya.” (2:191) spontan saya akan menanyakan dalam hati “apa konteksnya?”. Perkara membunuh bukan perkara kecil, ini masalah menghilangkan nyawa seseorang, masalah mencabut hak hidup yang diberikan Tuhan kepada Makhluk dan sekarang dikenal sebagai Hak Asasi.

Saya paham bahwa sebagian ayat Al-Quran adalah sebuah dasar hukum, namun sebuah dasar hukum akan menjadi cacat jika tidak memiliki landasan dan tujuan, ini akan menyalahi tujuan dari hukum itu sendiri.

Karena saya bukan orang yang cukup terpelajar mengenai Al-Quran, maka tidak ada jalan lain kecuali membuka Al-Quran dan membaca ayat tersebut.

Dan di Al-Quranlah saya menemukan jawaban.
(2:190). Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(2:191). Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
(2:192). Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[2.190] And fight in the way of Allah with those who fight with you, and do not exceed the limits, surely Allah does not love those who exceed the limits.

[2.191] And kill them wherever you find them, and drive them out from whence they drove you out, and persecution is severer than slaughter, and do not fight with them at the Sacred Mosque until they fight with you in it, but if they do fight you, then slay them; such is the recompense of the unbelievers.

[2.192] But if they desist, then surely Allah is Forgiving, Merciful.

Saya kira jika saja Ali Sina itu pernah membaca Al-Quran, bukan hanya mengutip potongan-potongan ayat hingga kehilangan konteksnya, maka ia tidak akan bertanya-tanya mengapa ada ayat seperti ini dalam Al-Quran.

Kita bisa melihat bahwa semangat perang pada 2 ayat di atas adalah semangat “membela diri”.
– “perangilah di jalan Allah” orang-orang yang memerangi kamu. (Al-Quran belum menggunakan istilah “kafir” di sini sebagaimana Ali Sina sebutkan)
– bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka.
– usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.
– dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.
– Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. (Barulah Al-Quran kemudian menggunakan istilah “kafir” di bagian akhir ayat)

Terjawab sudah pertanyaan saya mengenai konteks ayat tersebut.
Saya kira tidak perlu lagi dijelaskan mengenai hukum sebab-akibat.
Namun mengenai kata “bunuhlah” ini tampaknya perlu diperjelas, agar orang semacam Ali Sina ini dapat informasi yang lebih seimbang mengenai potongan-potongan ayat yang entah dia kutip dari mana.

Dalam situasi perang fisik dimanapun dan karena apapun, kata “membunuh atau dibunuh” bukan sebuah idiom yang ganjil, dan kita tentu paham senjata dalam peperangan itu digunakan untuk apa. Namun jika meneliti ayat-ayat di atas, ada rambu-rambu yang kiranya perlu pula diperhatikan, dan jika kita hilangkan memang akan menampilkan sebuah semangat barbar dan kekejaman. Sebuah image yang sengaja ingin ditampilkan oleh Ali Sina.

Rambu-rambu itu adalah:
– janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas;
– jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

– and do not exceed the limits, surely Allah does not love those who exceed the limits.
– But if they desist, then surely Allah is Forgiving, Merciful.

Pertanyaan Ali Sina akan lebih obyektif jika yang ditanyakan adalah sampai sejauhmana batasan-batasan itu. Itu sebuah pertanyaan yang perlu referensi lain untuk menjawabnya, dan karena Ali Sina tidak menanyakan itu saya pun tidak perlu menjawabnya. Jika saja Ali Sina pernah membaca Al-Quran, mungkin dia akan menanyakan hal itu.

Makna ayat “jika mereka berhenti (dari menyerang kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Adalah sebuah isyarat halus yang cukup mudah untuk dipahami. Bahwa jika mereka berhenti menyerang, maka sifat pengampun dan penyayang adalah sebuah misi penutup dari akhir peperangan itu. Ini semua tercakup dalam ayat sebelumnya, yaitu “perangilah di jalan Allah”, jadi bukan hanya perang defensif semata, yang jika sipenyerang sudah berhenti menyerang maka terjadi pembalasan dendam dengan menyerang balik secara agresif.

———-

Mari ke ayat selanjutnya.

(2:193). Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

[2.193] And fight with them until there is no persecution, and religion should be only for Allah, but if they desist, then there should be no hostility except against the oppressors.
Kenapa Ali Sina memotong ayat itu sehingga hanya menjadi:
“Perangi mereka, sampai tidak ada fitnah lagi dan ketaatan adalah semata-mata bagi Allah saja.” (2:193)

Padahal potongan ayat selanjutnya sangat penting, dan akan menjawab pertanyaan saya tentang konteks ayat tersebut.
Potongan ayat yang dibuang oleh Ali Sina itu berbunyi:
“… Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”

“… but if they desist, then there should be no hostility except against the oppressors”.

————————————

Makna lain yang saya tangkap dari ayat ini:

” Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi”

Terserah Ali Sina ingin mengartikan apa kata “Fitnah”, namun sudah jelas bahwa perang ini memiliki tujuan, bukan hanya sekadar ingin memuaskan nafsu bunuh membunuh yang absurd.

“….dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah”

Ini akidah dasar Umat Islam, ketaatan, agama, religion itu hanya kepada Allah, bukan kepada komandan perang, presiden atau siapapun. Jika diawal disinggung perintah “perangilah di jalan Allah” maka perang itu sendiri merupakan ketaatan, memiliki nilai lebih, yaitu ibadah, yang melandasi upaya untuk “membela diri”. Jadi jika perang sudah usai, entah karena “Fitnah” telah lenyap, atau karena musuh berhenti menyerang, maka perintah lain yang tidak sejiwa dengan perintah Allah pada ayat-ayat ini menjadi “tidak bernilai ibadah” lagi. Entah itu perintah untuk terus melakukan serangan dari komandan perang demi hasrat menang atau ingin menjajah dlsb, atau perintah lainnya.

Jika “….dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah” diartikan bahwa perang itu harus dilakukan hingga hanya tinggal ada satu agama, yaitu Islam, maka pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang ganjil, dan tidak nyambung dan bertolak belakang dengan kelanjutan ayat yang berbunyi “Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”

Kelanjutan ayat ini, yaitu “Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim” menjadi penutup yang sangat manis.
Sebuah kalimat pasif, yang justru menjelaskan dari mana permusuhan itu datang dan menjelaskan, bahwa orang-orang Zalim dikecualikan dari ketentuan ini.

Kenapa Ali Sina tidak melihat ada pembedaan istilah di sini.
Jika di akhir ayat 2:191 menggunakan istilah “kafir” maka di sini menggunakan istilah “Zalim”. Saya kira jika Ali Sina pernah beragama Islam, maka dia tahu apa beda makna istilah “Kafir” dan “Zalim”.

———————————–

Kebanyakan agama, termasuk Kristen, punya sejarah masa lalu yang penuh kekerasan. Tapi Islam adalah satu2nya agama yang mengajarkan tindakan kekerasan dalam buku sucinya. Mengapa? Ini adalah pertanyaan sah yang membutuhkan jawaban.

———————————–

Sekarang sudah jelas konteks ayat-ayat tersebut, menurut saya disana tidak diajarkan tindak kekerasan. Jika membela diri (sekalipun dengan membunuh dalam peperangan) dikategorikan sebagai kekerasan (dalam pengertian sebuah tindakan yang salah menurut Ali Sina) maka saya justru mempertanyakan standard keadilan seperti apa yang Ali Sina tawarkan.

Mengenai pernyataan bahwa Islam adalah satu2nya agama yang mengajarkan kekerasan dalam buku sucinya, sudah saya jelaskan bahwa yang di maksud sebagai “kekerasan” oleh Ali Sina ini adalah dalam rangka membela diri akibat diserang dan diperangi, dan saya tidak pernah mempelajari kitab suci agama lain, sehingga saya tidak dapat mengetahui apakah disana di ajarkan kekerasan, atau apalah.

Kontradiksi lainnya adalah jika benar pernyataan Ali Sina bahwa Al-Quran satu-satunya yang mengajarkan “kekerasan” (yang terbukti sebagai aksi membela diri), maka apa yang di ajarkan buku-buku suci agama lain saat umat mereka diserang dan diperangi???
Jika membela diri dipandang sebagai kekerasan, maka arti dari kontradiksi itu justru diluar nalar, apakah kita akan menyerahkan diri kita begitu saja untuk dibunuh oleh pihak-pihak yang menyerang dan memerangi kita??? Itukah yang diajarkan buku-buku suci agama lain???

Sukurlah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyerang tanpa alasan, jika tidak, mungkin sudah lama tak ada lagi agama lain dimuka bumi ini selain Islam. Karena ternyata umat selain Islam tidak diajarkan membela diri saat diperangi, karena membela diri akibat diserang dan diperangi adalah sebuah “kekerasan”.

Sumber


Responses

  1. Seandainya semua hati itu bersih..sifat kebinatangan itu tidak ada .dan syaitan tak menggoda kita..maka takkan ada kekerasan dan peperangan..
    Minum minuman keras,judi,perzinahan..mencuri dilarang..segala2 amal perbuatan tindakan kita sehari2 diatur..mungkin ini salah satu alasan kuat kenapa membenci agama islam..
    Padahal jika hidup tanpa aturan pasti takkan sesuai dengan hati nurani..
    Aku Masih belajar dan awam..salam persaudaraan..

  2. Kekerasan memang bukan satu-satunya cara; namun kalau kita baca konteks ayat-ayat diatas, kekerasan HARUSLAH DIBACA sebagai sarana terakhir untuk mempertahankan diri. Bilamana diplomasi sukses, maka perang tak diperlukan, namun bilamana diplomasi gagal dan musuh (dalam hal ini kuffar harbi dan antek munafik mereka) tetap menyerang, maka perang menjadi wajib HANYA DIBATAS DALAM ARTIAN SELF-DEFENCE WARFARE lengkap dengan aturan-aturan yang ketat untuk mengecilkan dampak-dampak yang ada.

    Jadi kita jangan kaku dalam menilai semua ayat diatas dengan mengabaikan asbabun nuzul (sebab-musabab turunnya) ayat-ayat tersebut…

  3. islam tak pernah mengajarkan kekerasan, bahkan ketika Rasul saw, d hina dicaci,beliau tetap sabar..”di ceritakan ketika Rasulullah mmsuki sbuah desa ada sseorang yg sllu melempari beliau dengan kotoran hewan, melihat hal tersebut seorang sahabat berontak ingin menghajar orng trsbt, tp Rasul menghalanginya dan menyuruh mmbiarkn orng yng melempari itu, begitupun stiap kali rasul mlwt ktmpt itu pasti orng itu akan mlmpri dngn kotoran,, Pd suatu hri bliau lwt ktmpt itu dan kheranan krena orang yg sllu mlmparinya dngn ktoran tdk ada, mka rasul pun mnanyakan kbradaannya, trnyata orng itu skit, kmdian rasul pun melayatnya, ketika smpai krmhnya, orng yg sllu mlmpri dngn ktran itu terheran dan mrasa malu sampai akhirnya dia msk islam,,, Sbhnllh islm mngjrkn kita bkn u/ brmshn, brperang tp u/ brslturahim….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: